Selasa, 15 Desember 2009

Sebuah perjuangan...

"Totalitas Perjuangan"

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan
Di persimpangan jalan

Kepada pewaris peradaban
Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan
Di lembar sejarah manusia

- Reff :
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga
Untuk negeri tercinta..


Buat para mahasiswa mungkin pernah denger lagu ini,,
"Totalitas Perjuangan" seperti sebuah mars wajib untuk para mahasiswa,,
terutama yang sedang melakukan aksi...

Nahh,, gw disini bukannya mau ngajakin buat kalian semua yang baca postingan ini untuk ikut aksi atau semacamnya,,
gw hanya berpikir hal apa yang bisa gw lakuin untuk masyarakat Indonesia sebagai mahasiswa,,
sedangkan dari diri gw sendiri aja gak bisa ikut aksi turun ke jalan seperti itu..

Padahal gw ini kuliah di sebuah PTN,,
yang uang kuliahnya dari hasil subsidi,,
dan subsidi pemerintah berasal pajak rakyat,,
dan orang - orang yang membayar pajak lebih besar adalah rakyat kecil..
Jadi apa yang bisa gw kembalikan kepada rakyat kecil ini??

Gw selama ini termasuk mahasiswa yang easy going,,
gak peduli sama yang namanya tugas dan sebagainya..
dan ketika seseorang berkata hal seperti diatas tadi,,
gw mulai berpikir lagi,,
ternyata selama ini gw hanya menyia-nyiakan waktu dan dana yang ada..

Yahh,, gw hanya dapat membulatkan tekad gw untuk mengabdi kepada masyarakat dengan lebih lagi..
Gw gak pengen cuma jadi penonton,,
yang gak bisa berbuat lebih dengan keadaan yang ada di negeri ini..
Dulu sih emang sempet mikir,,
"ngapain sih pusing2 mikirin negara??
toh udah ada yang ngurusin,,
mending gw ngebenerin diri sendiri dulu sebelum cuap2.."

Dan sekarang gw sadar,,
semua itu gak cuma bisa dilakuin dengan turun ke jalan,,
masih banyak cara untuk bisa ngebantuin mereka dalam menyuarakan aspirasinya..
Cukup dengan belajar yang bener dan gak ngelakuin kecurangan2 saat ujian..

Jadi, kalian sebagai siswa dan mahasiswa terutama,,
apa yang dapat kalian berikan kembali kepada rakyat yang telah membiayai pendidikan kalian???

Selasa, 08 Desember 2009

ketidakwarasan???

Kadang gw berpikir hal-hal yang gak seharusnya gw pikirin,
yang gak cukup penting buat ngebebanin otak gw yang kapasitas memorinya udah rusak berat..

Tapi tetep aja, semakin gak pengen gw pikir,
pikiran itu malah semakin ngebayangin gw..
ngancurin kenyataan yang ada, karena imajinasi gw terlalu besar,
dan nutupin segala perasaan yang gw juga gak ngerti apa yang sebenernya gw rasain..

Satu pertanyaan yang suka bikin gw bingung itu dari orang2 kantor di Srengseng,
kalo ketemu secara nyata maupun virtual,
mereka selalu nanya,
"Udah dapet cowo' di kampus??"..
Terus dengan bodohnya gw bilang,
"Lagi gak tertarik buat nyari tuh"..
padahal mah dalem hati gw pengen bilang,
"Lagi gak tertarik sama cowo' tuh"..
tapi pernyataan gw itu pasti bikin mereka bengang.bengong,,
dan berpikir "Wuseenk,, ternyata dy lesbong"..
padahal sih bukan itu maksud gw,,
gw mank lagi gak tertarik,
tapi bukan berarti gw ini bukan heteroseksual..
hanya merasa canggung dengan kenyataan yang ada,,
mungkin karena terlalu lama gw ini hidup di alam mimpi yang gw bangun sendiri,
jadi pas gw kebangun, semua terasa asing bagi gw..

masih banyak lagi sih menurut gw,
sampe saking gw yakinnya kalo sakit jiwa,
gw cari semua bahan artikel dsb tentang kejiwaan..
dan hasilnya??
Malah semakin membuat gw bertambah bingung...
Yasudahlah,,
mungkin ini bukan ketidakwarasan,,
tapi sebuah keanehan yang teramat sangat yang ada dalem diri gw...
:sweatdrop:

Kamis, 03 Desember 2009

IMPLIKASI KONSTRUKTIVISME TERHADAP PROSES MENGAJAR

Artikel ini hasil rangkuman gw di salah satu bab tentang Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Isinya sih bener2 bikin gw nyadar apa yang harusnya dilakuin sebagai pengajar....
Semoga gw bisa menjadi pengajar dan pendidik yang baik...

Makna Mengajar
Bagi kaum konstruktivis, mengajar adalah kegiatan yang memungkinkan siwa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar juga merupakan suatu bentuk belajar sendiri. Berpikir yang baik adalah lebih penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan yang sedang dipelajari. Cara berpikir ini untuk mengembangkan pikirannya sendiri, sehingga dapat membantu seseorang berpikir secara benar.

Fungsi dan Peran Pengajar / Guru
Pengajar sebagai mediator dan fasilitator
Menurut prinsip konstruktivis, seorang pengajar atau guru berperan sebagai fasilitator dan mediator yang membantu agar proses belajar murid berjalan dengan baik. Fungsi mediator dan fasilitator sbb,
1. Menyediakan pengalam belajar yang memungkinkan murid bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian.
2. Menyediakan atau memberikan kegiatan dan sarana yang merangsang siswa berpikir produktif dan dapat mengekspresikan gagasannya.
3. Memonitor, mengevaluasi, dan menunjukkan pemikiran murid tersebut berjalan atau tidak.

Agar peran tersebut dapat berjalan dengan optimal, deperlukan beberapa kegiatan dan pemikiran yang perlu disadari oleh pengajar.
1. Guru perlu lebih banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah mereka ketahui dan pikirkan.
2. Tujuan dan apa yang akan dibuat dikelas sebaiknya dibicarakan bersama siswa.
3. Guru perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan siswa.
4. Diperlukan keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa bahwa mereka dapat belajar.
5. Guru harus mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengharfai dan mengerti pemikiran siswa.

Karena murid harus membangun sendiri pemikiran mereka, maka guru perlu mengerti pada taraf mana pengetahuan mereka. Guru diharapkan dapat memberikan jlan kepada siswa untuk menginterpretasikan pertanyaan. Guru perlu belajar mengerti cara berpikir siswa sehingga dapat membantu memodofikasinya, ini cara terbaik untuk menemukan pemikiran mereka dan membuka jalan untuk menjelaskan mengapa suatu jawaban ridak berlaku sama untuk keadaan tertentu.

Pengajar perlu membiarkan murid menemukan cara yang paling menyenangkan dalam pemecahan soal. Bila seorang guru tidak menghargai cara penemuan mereka, ini berarti menyalahi sejarah perkembangan sains yang juda dimulai dari kesalahan. Guru perlu mengerti sifat kesalahan murid , perkembangan intelektual dan matematis penuh dengan kesalahan dan kekeliruan dan guru perlu melihat kesalahan tersebut sebagai suatu informasi tentang penalaran dan sifat skemata anak.

Julyan dan Duckworth (1996) merangkum hal2 yang penting dikerjakan oleh guru konstruktivis. Guru perlu mendengarkan dengan sungguh2 interpretasi murid terhadap data yang ditemukan. Guru perlu memperhatikan perbedaan pendapat dalam kelas, memberikan penghargaan kepada setiap murid. Guru perlu tahu bahwa "tidak mengerti" adalah langkah untuk mulai menekuninya.

Penguasaan Bahan.
Penguasaan bahan memungkinkan seorang guru mengerti macam2 jalan dan model untuk sampai pada suatu pemecahan persoalan tanpa terpaku pada satu model. Jangan mengklaim bahwa jalan yang diberikan adalah satu2nya benar, karena cara tersebut akan mematikan kreativitas dan pemikiran murid.
Guru perlu mengetahui konteks bahan selain penguasaan bahan dan diharapkan juga mengerti proses belajar yang baik.

Strategi Mengajar
Driver dan Oldham dalam Matthews (1994) menjalankan ciri mengajar konstruktivis sbb,
1. Orientasi. Murid diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dan mengadakan observasi.
2. Elicitasi. Murid dibantu mengungkapkan idenya secara jelas dan diberikan kesempatan untuk berdiskusi tentang topik yang diobservasikannya.
3. Restrukturisasi ide.
- Klarifikasi ide yang dikontraskan dengan ide2 orang lain.
- Membangun ide yang baru.
- Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen.
4. Penggunaan ide dalam banyak situasi.
5. Review, bagaimana ide itu berubah.

De Vries dan Kohlberg mengikhtisarkan beberapa konstruktivisme Piaget yang perlu diperhatikan dalam mengajar matematika.
1. Struktru psikologis harus diperkenalkan terlebih dahulu sebelum persoalan bilangan diperkenalkan.
2. Struktur psikologis harus diajarkan dulu sebelum simbol formal diajarkan.
3. Murid harus mendapat kesempatan untuk menemukan relasi matematis sendiri.
4. Suasa berpikir harus diciptakan.

Bagaimana Mengevaluasi Proses Belajar Murid
Guru konstruktivis tidak menekankan kebenaran, melainkan berhasilnya suati operasi (viable), sehingga yang harus dikerjakan guru adalah menunjukkan kepada murid bahwa yang mereka pikirkan itu tidak cocok atau tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi.

Hubungan Guru dan Murid
Dalam aliran konstruktivisme, guru bukanlah yang maha tahu dan murid bukanlah yang belum tahu sehingga harus diberi tahu. Dalam proses belajar murid aktif mencari tahu dengan membentuk pengetahuannya. sedangkan guru membantu agar pencarian itu berjalan baik. Dalam banyak hal guru danmurid bersama-sama membangun pengetahuan. Dalam artian inilah hubungan guru dan murid lebih sebagai mitra yang bersama-sama membangun pengetahuan.