Selasa, 09 Desember 2008
Sebuah Cita – cita, Harapan, dan Masa Depan
Namun,,
semua itu tidaklah sama dengan kenyataan yagn telah ku alami.
Semua cita-citaku selalu berubah setiap tahunnya,,
karena setiap tahun jalan yang harus ku lalui berbeda.
Di mulai dengan ingin menjadi koki,,
lalu ku belokkan kembali inginku untuk menjadi koki karena segala keterbatasan (dana) yang ada..
Kemudian sudah ku tekadkan untuk menjadi penulis / sastrawan,,
namun kabar buruk kembali menghadang..
Sekolah yang benar ku tuju telah menghapus kelas bahasa..
Berbulan2 ku tak ada keinginan untuk meneruskan sekolah,,
padahal ujian sudah menyapa dengan salam hangatnya..
Lalu pada suatu waktu seorang kawan yang mengerti keadaanku berkata :
“Ndoel,, daripada bingung mu miLih sekoLah,,
mendingan Loe ikut gw masuk STM..
Itung2 buat jagain gw..”
Mendengarnya aku hanya tersenyum pasrah,,
pikirku daripada salah masuk sekolah dan membuatku makin malas untuk mengahadapi hidup ini,,
lebih baik ku ikuti sarannya..
Namun diluar dugaan,,
kawanku yang satu itu malah memilih sekolah di SMA yang cukup terkemuka di daerah Jakarta Timur..
Mulailah ku jalani hidupku di sekolah teknik ini,,
-awalnya memilih elektronika karena ku udah punya dasar,,
namun karena saran dari kawanku itu ku lebih memilih untuk masuk jurusan Bangunan-
Setelah 3 tahun mencoba untuk mencintai dan mendalami “dunia bangunan” ini kembali harus ku hadapi tantangan hidup ini..
Ku diterima PKL di tempat yang gak berhubungan ma bangunan sama sekali..
Dan satu hal yang dapat ku simpulkan,,
bahwa Manusia memang hanya dapat berencana,,
sedangkan Allah SWT yang menentukan..
Jadi,,
ku jalani saja kehidupanku saat ini dengan sebaik-baiknya,,
dan ku pasrahkan segala hasilnya...
kosong..
Bersama denganmu,,
meledak segala rasa ini..
muak ku denganmu..
jauh darimu,,
sepi hatiku karena engkau telah menempati ruang ini setelah sekian lama..
ingin ku rindukanmu..
tapi ego ini terlalu besar untuk itu..
ku tak tahu lagi harus bagaimana..
di satu sisi,,
kau begitu baik menurutku..
membuat hari-hariku kembali berwarna..
walau tak jarang kau juga memberikan kegelapan dalam hariku..
segala kenangan tentangmu sulit tuk ku lupakan...
pahit,,
manis..
tetap tertutup rapat dalam memoriku ini..
Walau seperti apapun,,
kau tak dapat benar2 hilang dalam ruang ini..
Akankah kau kembali??
Sabtu, 29 November 2008
Ketika Cinta Tak Harus Memiliki
Ketika cinta tak harus memiliki…
Apakah kita sanggup untuk menjalaninya?
Apakah kita masih sanggup untuk tersenyum ketika ia menyakiti kita?
Apakah kita sanggup untuk berkata “aku
Ketika cinta tak harus memiliki…
Inilah saat-saat yang membuat kita berpikir “apakah kesalahanku”?
Saat-saat yang harus kita lakukan untuk merubah semua keburukan..
Dan muncul kembali menjadi sesosok orang yang lebih dewasa..
Ketika cinta tak harus memiliki…
Membuat kita menjadi manusia yang lebih tegar..
Menjadi manusia yang dapat menahan hawa nafsu duniawi..
Dan dapat mensyukuri semua yang telah diberikan didunia ini..
Jadi, kenapa kita masih berpikir untuk memiliki cinta tersebut?
Apabila tanpa memilikinya pun kita masih dapat bahagia..
Walaupun hanya dapat melihat bayang dirinya..
Dan ingatlah pula bahwa kita masih mempunyai teman-teman yang
Dan satu hal yang perlu kita camkan dalam hati..
Apabila kita tetap mencintainya walaupun tak dapat memilikinya..
Itu dapat dikatakan sebagai cinta sejati..
Cinta yang secara tulus duberikan secara ikhlas dari hati yang terdalam..